BERITAMALUKU.COM, Namlea – Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Buru merespon terkait pemberitaan salah satu media online yang menyebutkan ‘Cipayu Plus Giring Opini Sesat Soal Gunung Botak’.
Ketua IMM Cabang Buru, M. Kadafi Alkatiri menyebutkan, tulisan yang dimuat itu perlu dilakukan uji fakta, sebab narasi yang dibangun dalam pemberitaan memilih jalan pintas, menghakimi, melabeli, dan membangun stigma buruk terhadap Cipayung Plus.
“Ini bukan kerja jurnalistik melainkan agitasi opini yang bertujuan membungkam kritik terhadap pengelolaan tambang emas Gunung Botak,” ujar Kadafi, Rabu (14/1/2026).
Ironisnya, ungkap Kadafi, tuduhan media tersebut tidak mempunyai data, dokumen, atau hasil investigasi yang mereka sajikan untuk membantah substansi kritik OKP, yang ada hanyalah kalimat retoris, asumsi sepihak, dan generalisasi murahan.
“SidikPolisi News seolah olah memosisikan diri bukan sebagai pengawas kekuasaan, melainkan semacam juru bicara skema tambang yang sedang dipersoalkan publik. Ketika kritik terhadap relasi modal dan OKP Cipayung dituduh secara brutal sebagai aktor pengiring “opini sesat”, sementara skema pendampingan gelap dipoles sebagai solusi, publik patut curiga media SidikPolisi News ini sedang membela siapa? Dan ada apa menyerang Cipayung?,” ungkap Kadafi dengan nada tanya.
Menurutnya, media tersebut seolah lupa, bahwa dalam sejarah pertambangan Indonesia, penghisapan tidak selalu hadir lewat buruh asing di lapangan, melainkan melalui kontrol modal, teknologi, dan manajemen. Mengerdilkan isu ini menjadi soal, ada atau tidaknya pekerja Asing adalah upaya pengaburan sistematis.
Kemudian, lanjut Kadafi, soal tuduhan “demo pesanan” yang dilontarkan tanpa bukti adalah bentuk pembunuhan karakter terhadap gerakan mahasiswa, ini merupakan pola lama, ketika kritik tak mampu dibantah, maka motifnya yang diserang.
“Media yang beretika tidak akan melempar tuduhan tanpa dasar, jika SidikPolisi News memiliki bukti bahwa Cipayung Plus digerakkan oleh kepentingan tertentu, tunjukkan kepada publik, jika tidak maka tulisan itu layak disebut fitnah politik yang dibungkus jargon jurnalistik,” pungksnya.
Diketahui, pemberitaan itu muncul setelah Cipayung Plus yang terdiri dari HMI Cabang Namlea, IMM Cabang Buru, PMII Cabang Buru dan GMNI Cabang Buru, gelar unjukrasa pada, Selasa (13/1/2026) kemarin.
Para mahasiswa itu menolak sejumlah koperasi pemegang IPR yang berkongsi dengan Helena Ismail selaku pemegang saham sekaligus pengurus perusahaan modal asing asal Cina PT Wanshuai Indo Minning (WIM), untuk beraktivitas tambang Gunung Botak.
Mereka sangat tidak terima tambang emas Gunung Gotak akan dikelolah oleh perusahaan asing. Pasalnya, perusahaan asing diduga cuman memikirkan keuntungan pribadi, bukan kepentingan masyarakat Kabupaten Buru.(*)
